Aceh dalam kancah pergaulan internasional
Sejarah
Babad Cina pada abad ke-6 telah menyatakan keberadaan sebuah kerajaan di penghujung utara pulau Sumatera yang mereka kenali sebagai Po-Li. Naskah Arab dan India abad ke-9 juga telah menyebutkan hal yang sama. Dibandingkan dengan kawasan Indonesia yang lain, Aceh merupakan daerah pertama yang mempunyai hubungan langsung dengan dunia luar. Aceh memiliki sebuah sejarah yang lama. Aceh juga memainkan peranan penting dalam tranformasi yang dijalani rantau ini sejak pertumbuhannya.
Marco Polo, pada 1292, dalam pelayaran ke Parsi dari China telah singgah di Sumatra. Dia melaporkan terdapat enam pelabuhan yang sibuk di bagian utara pulau tersebut. Diantaranya perlabuhan Perlak, Samudera dan Lambri. Kerajaan Islam yang pertama kali berkembang di Aceh adalah Kerajaan Perlak pada tahun 804, lebih 100 tahun setelah Islam tiba di Nusantara. Perampasan pelabuhan di Melaka oleh Portugis pada 1511 telah menyebabkan ramai pedagang Arab dan India memindahkan jalur perdagangan mereka ke Aceh. Kehadiran mereka dengan membawa kekayaan dan kemakmuran kepada Aceh, menandakan bermulanya dominasi Aceh dalam perdagangan dan politik di utara Sumatera khususnya dan Nusantara umumnya. Keadaan ini berlangsung lama dari tahun 1610 hingga mencapai puncaknya pada 1640.
Kemunduran Aceh bermula sejak kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada 1641. Mulai dari sini dominasi perdagangan oleh Inggris dan Belanda yang berusaha menguasai kawasan-kawasan di Nusantara untuk kegiatan perdagangan mereka. Perjanjian London yang ditandatangani pada 1824 telah memberi kuasa kepada Belanda untuk menguasai seluruh kawasan Inggris di Sumatera sementara Belanda akan menyerahkan segala kuasa perdagangan mereka di India kepada Inggris serta berjanji tidak akan menghalangi Inggris untuk menguasai Singapura.
Tidak seperti yang telah diperkirakan, akibat Perjanjian ini, Belanda mengalami kesulitan untuk menguasai Aceh. Maka dimulailah Perang Aceh, yang berlangsung dari 1873 sampai tahun 1942, yang merupakan sebuah peperangan paling lama yang dihadapi oleh Belanda dan merenggut lebih 10 ribu tentera mereka.
Pasca pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM), atau sering dikenal dengan Operasi Jaring Merah, pada 7 Agustus 1998 yang sudah berlangsung selama 10 Tahun sejak 1989, tuntutan kemerdekaan Aceh yang disuarakan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kian bergema. Selain itu, muncul tuntutan referendum sebagai akumulasi kekecewaan rakyat Aceh pada pemerintah Jakarta. Tuntutan itu dimotori oleh mahasiswa dan intelektual muda Aceh yang terhimpun dalam Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA). SIRA yang didirikan di Banda Aceh pada 4 Februari 1999 berhasil mengakomodasi keinginan rakyat Aceh untuk menentukan nasib sendiri. Sebuah aksi fenomenal yang dibuat oleh SIRA pada 8 November 1999 adalah rapat umum yang dihadiri oleh 2 Juta lebih rakyat Aceh dari berbagai kabupaten/kota di Aceh. SIRA yang dipimpin oleh Muhammad Nazar berhasil mengakomodir aspirasi rakyat Aceh, dengan menuntut sebuah penentuan nasib melalaui suatu referendum, merdeka atau NKRI.
Keinginan rakyat Aceh untuk menentukan nasib sendiri semakin bergema dengan munculnya berbagai organisasi perlawanan rakyat, seperti KARMA, Farmidia, SMUR, FPDRA, SPURA, PERAK, dan HANTAM, yang lahir dengan mengusung berbagai macam isu. HANTAM misalnya, dengan mengusung isu Antimiliterisme berhasil membuat sebuah aksi yang spektakuler pada tahun 2002, dengan aksi yang paling fenomenal, karena dalam aksinya mereka menuntut Cease-fire antara RI dan GAM. Selain itu HANTAM dalam aksinya mengusung empat bendera, seperti bendera GAM, RI, Referendum dan Bendera PBB. Aksi yang berlangsung pada 6 Mei 2002 itu berakhir dengan penangkapan semua peserta aksi HANTAM seperti Taufik Al Mubarak, Muhammmad MTA, Asmara, Askalani, Imam, Habibir, Ihsan, dan beberapa orang lagi. Aksi itu memberikan makna khusus bahwa intervensi PBB untuk memediasi konflik Aceh tak dapat ditolak.
Agama
Mayoritas penduduk di provinsi NAD memeluk agama Islam. Selain itu provinsi NAD memiliki keistimemawaan dibandingkan dengan provinsi yang lain, karena di provinsi ini Syariat Islam diberlakukan kepada warganya yang menganut agama Islam.
Bahasa
Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia Walaupun banyak yang menggunakan bahasa Aceh dalam pergaulan sehari-hari, namun tidak bererti bahwa corak dan ragam bahasa Aceh yang digunakan sama. Tidak saja dari segi dialek yang mungkin berlaku bagi bahasa di daerah lain; bahasa Aceh bisa berbeda dalam pemakaiannya, bahkan untuk kata-kata yang bermakna sama. Kemungkinan besar hal ini disebabkan banyaknya percampuran bahasa, terutama di daerah pesisir, dengan bahasa daerah lainnya atau juga karena kelestarian bahasa aslinya
Geografi
Aceh merupakan kawasan yang palingparah dilanda gempa dan tsunami tanggal 26 Disember 2004. Beberapa tempat di persisir pantai dilaporkan musnah sama sekali. Malah Banda Aceh turut hampir musnah dilanda tsunami.
Demografi
Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku dan bangsa. Bentuk fisik mereka menunjukkan ciri-ciri orang Nusantara, Cina, Eropah dan India. Leluhur orang Aceh yang datang dari Semenanjung Melayu, Semenanjung Arab, China dan Kamboja. Etnis-etnis yang terdapat di Aceh adalah orang Aceh yang terdapat secara merata di seluruh Aceh, orang Gayo di Aceh Tengah, sebagian Aceh Timur, Bener Meriah dan Gayo Lues, orang Alas di Aceh Tenggara, orang Tamiang di Aceh Tamiang, suku Aneuk Jamee di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, orang Kluet di Aceh Selatan dan orang Simeulue di Pulau Simeulue. Aceh juga mempunyai beberapa keturunan Arab yang tinggi. Sebuah suku bangsa berketurunan Eropa juga terdapat di Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Mereka beragama Islam dan dipercayai adalah dari keturunan tentara Portugis yang telah memeluk agama Islam. Pada umumnya, mereka mengamalkan budaya Aceh dan hanya boleh bertutur dalam bahasa Aceh dan bahasa Indonesia.


















Posting Komentar Anda
You must be logged in to post a comment.